Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Vampire Academy

Written By Blogger on Tuesday, January 28, 2014 | 10:44 PM

Jenis Film : Action
Produser : Don Murphy, Michael Preger, Deepak Nayar, Susan Montford
Produksi : Reliance Entertainment
Sutradara : Mark Waters


Sinopsis Vampire Academy
Rose Hathaway (Zoey Deutch) adalah Dhampir, separuh vampir dan separuh manusia. Rose berlatih untuk melindungi keluarga kerajaan di Academy St. Vladimir. Sama dengan dunia manusia, di dunia vampir juga terdapat vampir baik dan vampir jahat.
 
Kedua ras berbeda ini hidup berdampingan secara damai dan hanya mengambil darah dari dari seorang donor. Rose bersahabat dengan vampir dari jenis Moroi, Lissa Dragomir (Lucy Fry), yang ia lindungi. Lissa adalah keturunan terakhir dari keluarga bangsawan di jenisnya.
 
Tugas Rose cuma satu, melindungi Lissa dari vampir jenis Strigoi yang sadis dan haus akan darah.
 
(http://www.21cineplex.com)
10:44 PM | 0 komentar

Retak Gading

Sebuah film bergenre drama romantis berjudul Retak Gading  segera dirilis pada 13 Februari. Namun sebelum secara resmi diluncurkan, film ini sudah terlebih dulu merilis trailer sebagai salah satu media promosi.

Film Retak Gading mengisahkan kehidupan gadis bernama Gading (Chelsy Liven) yang tidak merasa bahagia atas pernikahannya dengan Bara (Amar Alruvi). Sebab setelah menikah, sikap Bara jauh berubah. Karena itu, selama menjalani kehidupan rumah tangga dengan Bara, Gading justru terbayang-bayang mantan kekasihnya, Bintang (Detri Warmanto).

Hubungan cinta Gading dan Bintang kandas secara tiba-tiba setelah Bintang tidur bersama seorang wanita yang diketahui terinfeksi virus HIV. Karena itu, Bintang pun memutuskan hubungannya dengan Gading tanpa alasan apa pun.

Kekuatan Cerita
Aktris senior Christine Hakim yang turut mendukung film ini mengakui, film Retak Gading memiliki cerita yang kuat. Dalam film ini Christine berperan sebagai ibunda Gading. "Saya melihat film Retak Gading memiliki alur cerita yang kuat. Ada pesan moral kepada remaja agar berhati-hati dalam bergaul," ujarnya.

Selain itu, dia juga menyatakan film ini memiliki suatu keistimewaan karena mengangkat keindahan Pulau Morotai, Maluku Utara.

Dengan lokasi syuting itu, film yang disutradarai Bayu Pamungkas dengan produser Diad Ote ini menelan dana Rp 5 miliar.

Selain Christine, film ini juga didukung aktris senior Jajang C Noor, Gesya Sandy, Vicki Rasta, Buarnegis Muryono, Ali Kribo, dan Rizka Taushida dengan sutradara Bayu Pamungkas. (suaramerdeka.com)
10:23 PM | 0 komentar

The Wolf of Wall Street

Written By Blogger on Monday, January 27, 2014 | 10:34 PM

Tak pernah ada karya kacangan dari seorang sutradara sekelas Martin Scorsese. Kini, via film terbarunya berjudul The Wolf of Wall Street, sebuah komedi hitam tentang patgulipat kejahatan dunia sekuritas di AS, dia kembali memberikan sajian yang menurut hampir semua pemerhati film di AS dinilai sangat luar biasa.
Kisah kejahatan kerah putih yang diangkat dari memoar Jordan Belfort berjudul sama itu bahkan langsung menimbulkan tanggapan beragam ketika kali pertama dirilis pada 25 Desember 2013 lalu.

Dalam film yang skenarionya ditulis Terence Winter dan dilakoni aktor kesayangan Scorsese, Leonardo DiCaprio yang memerankan Belfort, dunia suram kejahatan sekuritas, pesta seks dan narkoba dikisahkan seperti saudara kembar yang tak terpisahkan.

Semua kegemerlapan semu itu berlangsung dalam panggung bernama Wall Street pada era 1990-an. Scorsese tercatat telah mendapatkan AFI Life Achievement Award atas kontribusinya di dunia sinema. Selain itu, dia juga telah meraih sejumlah penghargaan bergengsi seperti Academy Award, Palme d’Or, Cannes Film Festival Best Director Award, Silver Lion, Grammy Award, Emmys, Golden Globes, BAFTAs, dan DGA Awards. Karena itu, di tangannya, kisah serakah para pialang saham yang mahir melakukan pencucian uang pun tersaji secara jelas dan menarik.

Pesan Tersembunyi Sebagaimana kala menyajikan Taxi Driver (1976), Raging Bull (1980), Goodfellas (1990), The Departed (2006), dan Gangs of New York (2002), dalam The Wolf of Wall Street banyak pesan tersembunyi yang disampaikan kepada publik tanpa harus cerewet memberikan pesan itu via dialog para pelakonnya. Tidak mengherankan bila film itu mendapatkan lima nominasi di ajang Academy Awards 2014.

Keempat kategori itu adalah Best Picture, Best Director untuk Scorsese, Best Adapted Screenplay untuk Winter, Best Actor untuk DiCaprio, dan Best Supporting Actor untuk Hill. Film ini juga mendapatkan empat nominasi di BAFTA, termasuk kategori Best Director, Best Actor, dan Best Adapted Screenplay.

Dan yang pasti, film ini telah meraih dua penghargaan sekaligus dalam Golden Globe Awards yang baru lalu, yakni Best Motion Picture - Musical or Comedy dan Best Actor - Motion Picture Musical or Comedy untuk DiCaprio.

Selaian DiCaprio, pelakon lain film ini adalah Jonah Hill, Margot Robbie, Matthew McConaughey, dan Jean Dujardin. Film ini juga tercatat sebagai film kelima yang melibatkan kolaborasi antara Scorsese dan DiCaprio.

Sebagai film yang ditimbang sesak dengan moralitas ambigu, The Wolf of Wall Street juga dicatat sebagai film yang paling banyak dialog umpatannya di sepanjang sejarah perfilman di AS. Bahkan Peter Travers dari majalah Rolling Stone menyebut The Wolf of Wall Street sebagai film terbaik ketiga pada 2013, di belakang film 12 Years a Slave dan Gravity.  (suaramerdeka.com)
10:34 PM | 0 komentar

Negeri Tanpa Telinga

Lola Amaria sedang menyiapkan sebuah film satir hitam tentang Indonesia, berjudul Negeri Tanpa Telinga. Di film tersebut Lola menjadi produser, sutradara, dan penulis cerita.

Film yang akan menyoroti Indonesia dari kacamata kekuasaan, politik, dan seks itu, menurut Lola di Jakarta, Senin (27/1) petang, akan melihat Indonesia dari kacamata seorang tukang pijit. Film in didukung sejumlah pemain, seperti Lukman Sardi, Ray Sahetapy, Teuku Rifnu, Jenny Chang, Landung Simatupang, Kelly Tandiono, Gary Iskak, dan Tanta Ginting. ''Film terbaru saya ini akan berbeda dengan sejumlah film saya terdahulu," katanya.

Sejatinya, imbuh dia, dari mula film yang dia biayai sendiri itu memang berkisah tentang tukang pijit. "Dan, memang terinspirasi dari kisah seorang tukang pijit," katanya merujuk pada tukang pijit langganannya yang hampir menguasai segala informasi gratis dari sejumlah kliennya, selain Lola sendiri.

Tokoh tukang pijit itu akan dicitrakan secara fiksi pada sosok Naga (Teuku Rifnu), tukang pijit keliling yang memiliki klien dari golongan orang mapan, mulai dari politikus hingga pengusaha, dari menteri hingga anggota Badan Anggaran DPR, dan semua orang penting lainnya. Singkat kata, meski buta, berkat telinganya yang tajam dia mampu menangkap cerita berbagai skandal korupsi dan seks para kliennya.

"Ini film panjang ketiga saya setelah lima tahun. Idenya sekitar empat tahun lalu dan pengembangan tiga tahun lalu. Karena riset dan kendala dana, akhirnya baru bisa saya kerjakan sekarang," katanya.
Ambisius

Lola berharap film itu bisa meledak, meski berangkat dari kisah original, tidak dari novel, sebagaimana film kebanyakan yang beredar akhir-akhir ini.

Ray Sahetapy selaku aktor utama yang berlakon sebagai orang yang berkeinginan menjadi presiden, mengaku senang bisa bekerja sama dengan Lola Amaria. "Saya senang bekerja sama dengan sutradara perempuan. Saya berlakon sebagai tokoh ambisius yang ingin jadi presiden ke depan. Karena itu, tidak ragu-ragu mulai sekarang saya akan terus  mengatakan, "Pilihlah saya jadi presiden," ujar Ray berseloroh. Dia juga mengaku senang berlakon di film ini, karena sering dipijit.

Sebagai film yang di matanya sangat kreatif, karena ceritanya bercermin pada kondisi Indonesia kekinian. Ray yakin Negeri Tanpa Telinga akan sangat menarik perhatian penonton film Indonesia.

Lola menambahkan, sebagai satir, Negeri Tanpa Telinga nggak mau nyindir siapa-siapa aja. ''Tapi, kalau ada yang tersindir, syukur," katanya sembari menjelaskan filmnya kali ini minim bujet.

Dalam pembangunan skenario film ini, Lola berduet dengan Indra Tranggono, penulis lakon Teater Gandrik. "Kita bedah draft skenario sampai tujuh kali," katanya yang menimbang filmnya kali ini bukan sesuatu yang serius.

Dia bersyukur karena didukung sejumlah pemain yang bagus. "Saya berharap yang nonton banyak, karena semua tokoh di film ini semua buruk. Sebagaimana para pejabat yang sering kita tonton di TV. Yang kesannya baik, tapi penjilat dan pencuri. Yang kesannya beriman, tapi banyak selingkuhan," ujar Lola. (www.suaramerdeka.com)
10:27 PM | 0 komentar